Tega Telantarkan Istri, Telantar di Hari Tua

Advertisement
"Seakan tak pernah tua, Roni (bukan nama sebenarnya) menghabiskan masa mudanya untuk hura-hura dan main wanita. Tak sedikit wanita yang tertipu rayuannya. Tak sedikit pula ia telantarkan anak-anaknya demi bersenang-senang dengan wanita lain. nauzibillah, di masa tuanya, ia pun hidup sebatang kara."


MakNyak.com - Roni merupakan seorang pemuda biasa yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kecukupan. Ia mempunyai empat saudara dan dia merupakan anak pertama. Tanggung jawab sebagai anak pertama ini tidak membuatnya tumbuh menjadi sosok yang tangguh dan bisa dijadikan panutan oleh adik-adiknya. Ia justru menjadi seorang yang gaya bicaranya sangat tinggi dan sombong di masyarakat.

Ia tinggal bersama orang tuannya di salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Gresik. Rumahnya yang sangat sederhana, berbanding terbalik dengan penampilan serta gaya bicaranya yang sok kaya. Ia juga sering merayu perempuan untuk dijadikan pendamping hidup, namun ujung-ujungnya, Roni meninggalkan perempuan itu.

"Beberapa kali dia mengajak perempuan untuk kerumahnya. Katanya sih mau dinikahi, tapi kemudian tidak jadi. Besoknya ganti lagi perempuan dan begitu lagi," ungkap salah satu tetangganya yang tidak mau disebutkan namanya.

TELANTARKAN ISTRI

Di kalangan tempatnya tinggal, dia terkenal sebagai orang yang banyak bicara, merasa pintar, kaya, dan bisa segalanya. padahal ia bekerja sebagai karyawan perusahaan biasa.

Gayanya yang selangit membuat tetangganya juga tidak simpati pada keluarganya. Mengingat keluarganya yang hanya buruh tani. Setelah beberapa kali ia menjajaki hubungan dengan beberapa perempuan, tanpa alasan jelas, ia pun meninggalkannya.

Ironisnya lagi, ia justru menikah dengan perempuan yang tidak jauh dari rumahnya. Perempuan ini merupakan perempuan yang mandiri, karena sejak dia muda sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan ia tinggal bersama dengan kakaknya.

Setelah menikah dan mempunyai anak, masyarakat mengira, dengan kelahiran anaknya, Roni akan bertobat dan tidak lagi 'medhok' (suka ganti-ganti perempuan dalam istilah Jawa).

Ternyata harapan itu tinggal harapan, Roni malah berkhianat dengan perempuan lain, bahkan sampai melakukan zina dan mempunyai anak. Istrinya tidak terima dan meminta untuk berpisah.

"Dia kayaknya tidak merasa berdosa kepada istrinya. Karena setelah melakukan kesalahan itu, istrinya meminta berpisah dan ia hanya mengiyakan, dan tidak mencoba untuk meminta maaf," ujarnya.

Setelah berpisah dengan istrinya, ia memutuskan untuk keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Ia pamitan untuk pergi merantau ke luar Jawa untuk bekerja. Tapi, selama ada di luar pulau, mantan istrinya mendapatkan kabar kalau dia juga menikah lagi.

BERAKHIR DERITA

Setelah hampir bertahun-tahun ia merantau, Roni kembali ke kampung halamannya, namun ia tidak kembali pulang kepada kedua orang tuanya. Karena rumahnya sudah penuh dengan adik-adiknya yang sudah menikah dan tinggal sekalian di rumah orang tuanya.

Roni menikah lagi dengan perempuan yang dikenal pada saat merantau dulu. Ia tinggal di tempat istrinya yang sekarang.

Orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, orang tuanya hanya bisa membiarkan Roni berbuat semaunya. Mereka fokus untuk memberikan kasih sayang kepada anak Roni yang dibesarkan oleh mantan istrinya.

Bukan hanya sering berganti-ganti perempuan yang diajak ke rumahnya, beberapa temannya juga bersaksi bahwa dia sering ke lokalisasi untuk mencari hiburan. Uang hasilnya bekerja hanya di hambur-hamburkan untuk bersenang-senang dengan para perempuan. Hingga ia lupa bahwa setelah ada masa muda akan muncul masa tua.

Astagfirullah, ketika masa tuanya datang, ia lupa untuk menyiapkan bekal. Baik itu bekal akhirat maupun dunia. Kini ia tidak lagi bisa menikmati masa tuanya dengan nyaman. Ia tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Kemudian, ia juga bekerja serabutan, karena setelah pulang dari luar Jawa, ia tidak mempunyai pekerjaan tetap.

Kini hidupnya tidak tentu, kadang tinggal di tempat tetangganya, kadang juga, ia tinggal di rumah temannya. Hidupnya menjadi telantar, karena mantan-mantan istrinya tidak mau menampungnya. Meskipun sudah hidup telantar, tapi Roni masih tetap dengan gaya hidupnya yang belum mau untuk bertobat kepada Allah dan masih melakukan perbuatan maksiat.

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman," (QS An Nur (24): ayat 2).