Senang Pamer Harta, Mau Mati Pun Susah

shares |

"Apa yang dialami Pak Darmin (bukan nama sebenarnya), layak menjadi pelajaran. Sikapnya yang pelit bin kikir dan suka pamer membuat akhir hidupnya menderita. Saat akan menjemput ajal, mulutnya meracau tak karuan selama berjam-jam. Lebih buruk lagi, dari mulutnya tercium bau tak sedap."

Ilustrasi

MakNyak.com - Sabtu siang, awal tahun 2013 yang lalu, warga Sukoharjo di Solo, Jawa Tengah diriuhkan oleh meninggalnya Pak Darmin. Lingkungan rumah Pak Darmin termasuk padat perumahan, meski tergolong pelosok. Sehingga saat Pak Darmin jatuh pingsan di kamar mandinya, segera menyebar ke tetangga-tetangga terdekatnya dengan cepat.

Warga pun berdatangan meski sebenarnya Pak Darmin terbilang banyak yang tak suka karena tabiatnya kurang menyenangkan.

"Namanya tetangga, kalau dia sakit bagaimana mungkin kami tidak menjenguk, ya meski orangnya begitu, kurang bergaul," ujar Siswandi, tetangganya.

Siswandi adalah supir taksi di Prawirotaman, Yogyakarta yang akrab dipanggil Adi.

Rumah Adi di Sukoharjo, tepat berhadap-hadapan dengan rumah Pak Darmin. Menurut ADi, ketika itu keponakan Pak Darmin, Eko datang buru-buru ke rumah Pak Darmin setelah ditelepon tantenya, istri Pak Darmin.

Kedatangan Eko yang terburu-buru itu diketahui oleh Adi. Karena tampak tergesa-gesa dengan wajah panik, Eko pun ditanyai oleh Adi, apa yang terjadi? Dari Eko diketahui baru saja Pak Darmin sedang pingsan, terjatuh di kamar mandinya. Akhirnya kabar tersebar. Kemudian para tetangganya yang lain, selain Adi pun menjenguknya.

Setelah Adi dan tetangganya yang lain masuk, pak Darmin sudah tampak sadar. Kata istrinya yang menemani di sampingnya, selain Adi, ia baru saja tersadar. Hal yang membuat Adi dan dua tetangganya yang menjenguk, saat sadar Pak Darmin sering meracau, berbicara sendiri setengah berteriak. Ekspresinya seperti takut dan melihat sesuatu.

"Jangan, jangan tidak mau, jangan dibuka," begitu Adi menirukan racauan Pak Darmin menjelang ajalnya.

Saat meracau itu Pak Darmin sambil memegangi mulutnya. Seperti ada yang tak mau lepas dari dalam mulutnya. Adi masih ingat. Pak Darmin memang memiliki gigi palsu yang konon berupa emas.

Di sekitar usianya 35-an, gigi depan Pak Darmin patah karena kecelakaan. Sejak itu Pak Darmin memasang gigi palsu yang katanya terbuat dari emas. Ketika berbincang dengan tetangganya, ia selalu mengatakan, gigi palsunya terbuat dari emas. Mungkin selain untuk menutupi rasa malu mengenakan gigi palsu, ia mengalihkan persepsi orang. Ada nilai lain di balik gigi palsunya, bukan gigi palsu biasa, tapi terbuat dari emas. Karena tabiat orangnya memang selalu pamer dengan harta kekayaannya.

MENEBAR BAU BUSUK

Sebelum Adi dan tetangganya yang lain beranjak pulang, tiba-tiba Pak Darmin mengalami sakaratul maut. Napasnya terasa tersendat-sendat di kerongkongannya.

Seperti ada yang tersendak. Matanya melotot melihat tetangganya yang menjenguk. Sedangkan istrinya tampak bingung dan sedih melihat kondisi suaminya.

Ada sekitar dua puluh menit Pak Darmin terus dalam kondisi napasnya tersendak-sendak di kerongkongannya. Anehnya, saat itu, menurut Adi, tak ada yang terbesit membawa Pak Darmin ke rumah sakit. Istrinya lama-lama justru mulai tampak menangis menyaksikan apa yang dialami suaminya.

Setelah melewati waktu sekitar dua puluh menit, Pak Darmin pun sedikit bisa mengeluarkan suara, tubuhnya pun mulai melemah meminta istrinya melepaskan gigi palsunya.

"Setelah dilepas, ia mulai tenang," lanjutnya.

Tapi tak lama kemudian, napasnya tersendak-sendak kembali. Sembari ada bau yang tak mengenakan keluar dari mulut Pak Darmin setelah gigi palsunya dilepas. Pak Darmin terus seperti terlihat menahan rasa sakit dengan napasnya yang tersendak-sendak. Saat napasnya normal, tatapannya kosong.

Pak Wahyu, tetangga yang datang bersama Adi tersadar. Pak Wahyu meminta Eko untuk mengambil wudu dan membacakan Alquran. Menurut Adi, Pak Wahyu waktu itu tampaknya sadar, kalau Pak Darmin sedang dalam proses sakaratulmaut. Dengan eko terus membacakan Alquran di sampingnya. Tetangganya yang lain pun turut membaca doa. Pak Darmin terlihat semakin tenang. Seiring dengan tenangnya keadaan yang dialami Pak Darmin, ia menghembuskan napas terakhir,. Tiba-tiba tak sadarkan diri untuk selama-lamanya. "Baru meninggal setelah gigi palsunya dilepas dan dibacakan Alquran itu,"ujar Adi

KIKIR ALIAS PELIT

Semasa hidupnya, Pak Darmin terkenal orang pelit dan jarang bergaul dengan tetangganya. Ia memang tergolong orang yang berharta di lingkungannya. Bisnisnya barang antik. Sedangkan tetangganya yang lain rata-rata hanya buruh dan pekerja biasa. Dalam hal-hal yang sepele, ia sangat cerewet dan mudah marah.

Seperti dicontohkan Adi, ada tetangganya yang meminjam selang air untuk keperluan mengalirkan air saat punya hajat. Karena tidak segera dikembalikan, Pak Darmin marah dan tak mau meminjamkan lagi selangnya pada tetangganya.

Adi juga pernah merasakan sendiri bagaimana tabiat kurang bersahabatnya Pak Darmin. Pohon mangga depan rumah Adi musim kemaru meranggas. Karena diterpa angin dan sering ada lembaran daunnya yang terjatuh di halaman Pak Darmin, marahnya bukan kepalang. pak Darmin mengata-ngatai Adi, kalau tak punya waktu memotong daun mengganya suruh sewa orang, nanti Pak Darmin yang akan membayarnya. Pak Darmin ebgitu sering melecehkan dan kurang menjaga perasaan orang lain karena kelebihan hartanya.

"Saya sudah tau tabiatnya ya diam saja, minta maaf, ngapain meladeni," ujarnya.

Meski tergolong orang kaya di kampungnya, pak Darmin ketika ada tetangganya yang sakit dan harus dirawat di rumah sakit, tidak dengan mudah mau menjenguknya. ia biasanya mau berpartisipasi kalau tetangganya mau menyewa mobil pickup-nya. Anehnya, ia tak pernah bersimpati untuk memberikan potongan harga. Ia tetap menarik bayaran seperti halnya ongkos angkot pada umumnya. Tapi warga di sekitarnya tak ada yang ambil pusing dengan sikap Pak Darmin. Semuanya sudah sama-sama maklum.

"Warga sudah memaafkan. Pokoknya, dianggap wong ra nggenah," pungkasnya.

Related Posts