Mendurhakai Ibu, Terbakar Di Liang Kubur

Advertisement
"Hati-hati dengan ibu, jangan pernah melukai hatinya, apalagi mengusirnya dari rumah kita. Sebab, jika kita sampai melakukannya, tunggulah azab Allah. Seperti yang dialami Yusman (bukan nama sebenarnya). Akibat mengusir ibunya, ia langsung sakit aneh hingga merenggut nyawanya. Nauzibillah, saat baru saja dikubur, kafannya sudah gosong."


MakNyak.com - Sebut saja namanya Yusman (bukan nama sebenarnya), ia telah menikah dengan seorang wanita berparas cantik. Namun sayang, hatinya tak secantik wajahnya.

Yusman sangat menyayangi istrinya dan selalu menuruti setiap ucapannya. Yusman mulai terpengaruh dengan tabiat-tabiat buruk istrinya. Dari sinilah kisah tragis dimulai.

Rumah yang terletak di daerah Sidoarjo, Jawa Timur itu dihuni oleh tiga orang. Sebelum menikah dengan Rini (bukan nama sebenarnya). Yusman merupakan anak yang penurut dan selalu bersikap baik pada ibunya. Perlahan namun poasti, Rini berhasil mencuci otak Yusman.

"Mbak Rini itu orangnya pandai bicara. Kalau dia ngomong apa saja, pasti orang-orang akan langsung simpati dan merespon dengan baik. Apalagi Mas Yusman, paling kalau di suruh Mbak Rini terjun ke dalam sumur, pasti dilakukan," tutur Sri (bukan nama sebenarnya), yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Yusman.

Rini selalu memperlakukan Mak Jum (bukan nama sebenarnya), yang notabene mertuanya sendiri itu, tak lebih dari seorang pembantu. Dirinya sering sekali mengadu pada Yusman bahwa ibunya tidak pernah membantunya membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Ia hanya berjalan-jalan dan bergosip dengan tetangga sekitar rumah.

"Mbak Rini sering bercerita bahwa Mak Jum sering memperlakukannya dengan seenaknya sendiri, padahal kami tahu bahwa Mak Jum bukanlah orang seperti itu. Dia sangat menyayangi menantunya itu," tutur Santi (bukan nama sebenarnya)

MEMFITNAH MERTUA

Hubungan Yusman dan ibunya semakin hari semakin memanas. Semua itu dikarenakan Yusman yang terlalu percaya dengan cerita yang dilontarkan istrinya. Di rumah yang cukup nyaman itu sering terdengar perang mulut antara Mak Jum dan Yusman.

Perlakuan Yusman yang sudah tidak menghormati keberadaan sang ibu juga sempat terdengar oleh kerabat lainnya. Namun Mak Jum selalu menutupi hal itu.

Hingga puncaknya, terjadi pada suatu malam Yusman dengan tega mengusir ibu kandungnya sendiri pergi dari rumahnya.

"Saya lupa waktu itu bulan apa, yang saya ingat, Mak Jum datang ke rumah saya pada pukul sepuluh malam. Mak Jum tidak banyak bercerita. Dia hanya meminta izin untuk tinggal semalam saja. Setelah itu dia mau pulang ke kampungnya di Bojonegoro," aku Santi mengenang kejadian tersebut.

SAKIT GATAL-GATAL

Tiga bulan setelah peristiwa pengusiran yang dilakukan kepada ibunya, Yusman terserang penyakit gatal-gatal tanpa sebab yang jelas. Seluruh kulitnya melepuh seperti terbakar.

Berbagai macam pengobatan telah dijalaninya, baik itu pengobatan medis atau pun nonmedis. Namun segala upaya pengobatan itu tidak ada yang membuahkan hasil.

"Tetangga sekitar sini tidak ada yang berani mendekat. Luka yang ada di sekujur tubuh Mas Yusman mengeluarkan nanah dan bau yang tidak sedap," ungkap Sri lagi.

Semakin hari luka yang terdapat di tubuh Yusman bertambah banyak. Yusman hanya bisa merintih kesakitan dan kepanasan. Dia juga meminta tolong pada orang-orang yang menjenguknya untuk dipertemukan dengan ibunya.

"Tolong Mas...., Mbak..... carikan ibuku. Aku ingin meminta maaf pada beliau. Sakitku ini karena aku durhaka padanya," ucap Santi menirukan ucapan Yusman sebelum ajal menjemputnya.

Empat bulan lamanya Yusman merasakan sakit yang tidak kunjung sembuh dan menemukan obatnya. Akan tetapi sebelum Yusman mendapatkan maaf dari ibunya, bahkan ajal lebih dulu datang menjemputnya. Begitu busuknya bau yang bersumber dari luka-luka di tubuh Yusman, hingga mudin setempat pun enggan memandikannya. Ia menyewa orang untuk memandikan Yusman.

"Baunya luar biasa, mungkin itu azab dari Allah yang diperlihatkan pada kita untuk selalu menghargai dan menghormati ibu," guman Sri.

KAFAN GOSONG

Keanehan tak hanya selesai di bagian itu saja. Sebab, meninggalnya Yusman hampir bersamaan dengan meninggalnya orang lain di desa itu. Sehingga tersedialah dua tanah galian untuk memakamkan mereka. Dan baru selesai dikebumikan, keributan pun terjadi. Itu akibat terjadi kesalahan memasukkan jenazah Yusman. Akhirnya warga pun mengalah untuk membongkar kembali makam Yusman.

Anehnya, saat makam di bongkar, mereka mendapati kain kafan Yusman telah berubah warna: coklat ke abu-abuan. Tubuhnya juga tampak lebih tipis.

"Waktu kain kafan Pakde Yusman dibuka pak mudin, wajah pakde berubah warna dan bentuknya seperti hangus terbakar," tutup Rendy, keponakan Yusman yang saat itu ikut menguburkan.
Advertisement