Melihat Bukti Keajaiban Haji

shares |

"Ibadah haji memang mengandung banyak misteri. Meski berhaji di tempat yang sama dan melakukan ritual yang sama, tetapi pengalaman masing-masing jamaah haji berbeda-beda. Ada yang mengalami kesembuhan dari sakit, ada yang merasa di azab, dan ada pula yang merasa diberi kemudahan selama ibadah. Benarkah keajaiban haji itu ada?"


MakNyak.com - Kisah nyata, ketika seorang yang akan menunaikan haji, berangkat dalam keadaan sakit, tetapi ia tetap memaksakan dirinya, di pesawat tiga penumpang terpaksa merelakan kursinya agar si sakit bisa berbaring karena tidak kuat duduk, maka tiga penumpang tersebut duduk di bawah.

Sepertinya penyakit berat. Akan tetapi apa yang terjadi ketika sampai di Kota Makkah mukarramah. ia mulai terlihat sehat. Uniknya, ketika sampai dan melihat Kakbah, ia sepertinya tidak pernah sakit dan langsung tawaf serta sa'i berjalan dan berlari-lari kecil.

Ada juga kisah seorang kakek yang sudah sangat sepuh, badannya sudah bongkok, dan kadang sering ling-lung. Kakek ini harus benar-benar dijaga kesehatannya dan jangan sampai sendiri dan dilepas karena bisa hilang.

Tetapi ternyata kakek ini termasuk yang paling sehat, tidak pernah sakit berat kecuali hanya pilek ringan. Termasuk juga yang paling semangat ketika melakukan manasik, yang lebih muda dari dia ada yang pingsan, ada yang kelelahan, bahkan kakek ini kuat naik gunung Jabal Rahmah sampai puncak dengan cepat.

Ada juga seorang tua yang sudah terkena stroke, sehingga selama gaji harus dibawa menggunakan kursi roda dan harus memakai selang kateter untuk kencing. Selain itu, juga sudah agak tidak nyambung ketika berbicara. Ia di urus oleh anaknya yang sangat berbakti kepada ayahnya.

Anaknya mengaku bahwa selama haji ayahnya bisa lebih tenang, tidak sebagaimana di rumah. Sehingga proses ibadah haji lebih mudah di laksanakan.

Cerita nyata seperti ini sudah banyak, mulai dari yang tadinya kakinya asam urat kambuh atau seorang nenek tua jumpo yang jalan saja harus dipapah. Ternyata ketika akan melihat dan sudah melihat Kakbah mereka kuat melakukan tawaf dan sa'i dengan total jarak berkilo-kilo dengan berdesak-desakan.

Subhanallah, itulah keajaiban haji yang banyak dijumpai dan dialami oleh umat Islam yang melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci.

MULUT BISU

Apa yang dirasakan H Amir merupakan bukti bahwa Allah benar-benar membalas perbuatan dan ucapan yang tidak baik. Saat Arbain di Madinah, H Amir memang berniat untuk mengkhatamkan Quran sebelum dirinya kembali ke Makkah. Di hari terakhir, H Amir ini tanpa sengaja mengatakan kepada jamaah bahwa dia merasa bersyukur bisa menghatamkan Quran.

"Alhamdulillah, saya diberi kesehatan. Saya juga hampir mengkhatamkan Alquran. Kurang 1 juz saja," kata Amir kepada jamaah rombongannya saat itu.

Ajaibnya, setelah ia berkata seperti itu, Amir yang berangkat haji pada tahun 1998, itu langsung merasa kesakitan di tenggorokannya. Tubuhnya pun menggigil panas dingin. Bahkan, ia merasa bahwa mulutnya seperti orang bisu. Tidak mampu digunakan untuk bicara. Untungnya Amir segera tersadar jika ucapannya itu termasuk takabur.

"Padahal niat saya itu hanya bersyukur karena bisa menghatamkan. begitu mengucap itu, tubuh saya sakit semua. Tenggorokan sakit tidak bisa buat ngomong. Menggigil dan kepanasan," tegas Amir

Kemudian Amir bergegas mohon ampun di depan Masjid Nabawi dan sakit itu pun berangsur sembuh hingga bisa melanjutkan untuk ngaji.

"Saya sadar bahwa ini takabur. Hal yang baik pun atau tidak baik, tidak boleh diucapkan. Bangga atau sombong," lanjut pria asal Ujung Pandang.

SEMBUH DARI KANKER

Sementara Hj Susilawati mengatakan jika kankernya benar-benar sembuh setelah menunaikan ibadah haji. Sejak tahun 1998, Susi, panggilan Susilawati, divonis menderita kanker. Ia pun pasrah jika Allah mengambil nyawanya kapan saja. Namun, permintaan Susi saat itu ingin menunaikan ibadah haji.

"Saya saat itu ingin pergi haji. Kemudian saya berdoa agar diberi kesempatan untuk melihat Alif (cucunya) tumbuh besar," tutur muslimah 70 tahun ini.

Tepat saat menunaikan ibadah haji, ketika di kediaman Khadijah, lantas Susi disarankan oleh jamaah lain untuk mengguyurkan air zamzam ke sekujur tubuhnya.

"Saya kan minum air zamzam, kemudian saya guyur itu zam-zam ke sekujur tubuh saya," terangnya.

Tepat setelah mengguyur air zam-zam, Susi merasa kondisi fisiknya benar-benar berubah. Ia merasa sangat sehat. Ajaibnya lagi, Susi yang sebelumnya menjalani kemoterapi bisa berjalan hingga 13 kilometer. Sepulang haji, Susi merasa bahwa Allah memberikan mukzijat kepadanya.

"Ketika saya kontrol, dokter bilang kalau kanker saya hilang. Dokternya sendiri juga heran. Subhanallah," tandas Susi penuh syukur.

HARUS INTROSPEKSI

Menurut DR Sahid HM MAg, semua peristiwa yang terjadi dalam melaksanakan ibadah haji bisa dijadikan introspeksi. Orang yang melaksanakan ibadah haji bisa dijadikan introspeksi. Orang yang melaksanakan ibadah haji itu berharap akan mendapatkan sesuatu yang baik ketika pulang dari ibadahnya nanti.

Sebagian mengindikatori bahwa orang yang baik akan mendapatkan yang baik. Sebaliknya, jika orang melakukan kejahatan, itu akan mendapatkan sesuatu yang kurang baik. Biasanya itu berkaitan dengan personal.

"Seseorang akan menyadari dengan perbuatan yang pernah ia lakukan dulu. Misalnya, dulu pernah memukul orang, maka pada saat di Tanah Suci dipukul orang," jelas Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya.

Manusia tidak bisa menilai sendiri, apakah baik dan tidak. Bisa jadi ketika melaksanakan ibadah haji, juga mendapatkan ujian. Sebelum berangkat haji sudah melakukan hal-hal yang baik, tapi di Tanah Suci mendapatkan hambatan. Itu bisa jadi cobaan dari Allah. Paling penting introspeksi diri.

"Biasanya orang itu menjustifikasi dirinya sendiri, kemudian diceritakan kepada orang lain. Permasalahan personal itu tidak bisa digeneralisir dan tidak bisa dijadikan ukuran," imbuhnya.

Pada saat akan menunaikan ibadah haji, perbanyak perilaku yang baik. Melakukan ibadah vertikal dan horizontal. Meningkatkan ibadah kepada Allah dengan cara shalat yang baik, membaca Alquran dan banyak melakukan zikir.

Selain melaksanakan hubungan yang baik dengan Allah, orang yang akan melaksanakan ibadah haji juga harus melakukan hubungan baik dengan tetangga, teman, dan kerabat. Karena pada saat tawaf dan sai akan berbarengan dengan banyak orang juga. Ibadah yang dilakukan juga banyak, jadi butuh energi yang ekstra.

"Jika mendapatkan 'keajaiban' lebih baik yang diceritakan yang baik-baik diceritakan yang baik-bai saja agar bisa memotivasi orang lain untuk berbuat yang lebih baik lagi," ujar dosen Syariah ini.

Secara psikologi juga dipersiapkan bagaimana agar diri tidak merasa benci, iri, dengki, sombong dan takabur terhadap orang lain. Perlu di ingat lagi bahwa kita berangkat haji bukan untuk pamer dan kesombongan, tapi untuk menghadap Allah. "Mentalitas spiritual dan psikologis perlu dibangun sejak akan berangkat haji. Sehingga dalam menjalankan ibadah haji, sudah siap secara mental dan psikologi," tandasnya.

Related Posts