Hidup Serakah, Mati Berakhir Susah

Advertisement
"Apapun profesinya, semestinya tidak serta merta merampas hak orang lain. Namun, hal itu tak berlaku bagi Supono. Meski sesuatu itu bukan baginya, ia berani menyerobotnya. Akibatnya, di ujung hidupnya, ia susah sakaratulmaut. Hanya jerit kesakitan yang terucap dari bibirnya."

Ilustrasi (Sumber Gambar@Source)

MakNyak.com - Supono (bukan nama sebenarnya), sosok seorang petani di Banyuwangi ini dikenal arogan dan tak ingin kalah dengan yang lain. Tidak ada rasa peduli kepada orang lain yang senasib dengannya. Kikir dan serakah, begitulah komentar warga tentang dirinya.

"Jangankan bersedekah, ada tetangga yang meminta bantuan pun dia tidak peduli. Padahal saat itu dia habis panen." ucap Miswan (60), warga setempat berkisah.

Memang, lanjut Miswan, Supono terbilang hidup berkecukupan. Ia mempunyai sawah yang luas, warisan orang tuanya. Maklum saja, dia memang anak satu-satunya.

"Dia cukup kaya, rumahnya di atas rata-rata dan hartanya pun banyak," lanjut Miswan.

Tapi, lanjut Miswan, karena sikapnya yang acuh tak acuh dengan tetangganya yang susah, ia pun sering jadi bahan pembicaraan.

"Banyak orang tidak menyukai tingkah lakunya," tegasnya.

ENGGAN BERIBADAH

Miswan kembali menuturkan, perilaku kurang terpuji Supono begitu terlihat ketika mengairi sawahnya. Memang, sawah di daerah itu mengandalkan pengairan dari sungai. Setiap sawah digilir untuk mendapatkan jatah air.

"Dia tidak peduli sama orang, air yang bukan jatahnya dia serobot," ujar petani lainnya membenarkan Miswan.

Tak ayal, sawah milik warga lainnya kurang air. Kalau sudah begitu, bisa dipastikan hasil panen padinya tidak maksimal.

"Padahal kalau ada orang yang mencari rumput di sawahnya pasti dimaki-maki," kenang Miswan.

Tak hanya itu yang disayangkan warga. meski istrinya dan anaknya rajin ibadah dan ikut pengajian, Supono seolah tak peduli. Baginya, bekerja melebihi segala-galanya. "Bahkan, malam-malam masih kesawahnya karena takut hasil tanamannya dirusak orang," imbuh Imah, warga lainnya.

Waktu pun terus bergulir, tanpa terasa usia Supono sudah lebih dari lima puluh tahun. Di usia senja itu, ia masih asyik dengan pekerjaannya hingga tak peduli dengan kesehatannya. Alhasil, tubuhnya pun ambruk karena serangan penyakit diabetes.

"Sudah sakit begitu dia masih tidak mau sadar diri. Diajak ke masjid, jawabannya nanti-nanti saja," imbuh Miswan.

Perlahan tapi pasti, penyakit itu menggerogoti tubuh dan hartanya. Betapa tidak, demi menyembuhkan penyakitnya hampir semua hartanya ia habiskan untuk berobat.

"Akhirnya sawahnya pun dijual, ya buat biayanya berobat," kenang Wisman.

MATI PUN SULIT

Setelah beberapa tahun hanya bisa berbaring di atas kasur sepertinya kesembuhan akan menghampirinya, akan tetapi apa daya, ajal mendahuluinya.

"Aduh, aduuh," erang Suppono ketika sakaratul maut.

Anehnya, ia tidak langsung meninggal, tetapi memerlukan beberapa jam. Tak ada kata "Allah" diu ujung hidupnya. Bersama hentakan napas terakhirnya, hanya kalimat, "Aduh.... aduh..... aduh.....'" yang keluar dari bibirnya.

Padahal Ustad Saebani tak henti-henti membisikkan "Allah... Allah.... Allah.....," di telinganya.

Namun, yang terekam dari tubuhnya hanya geliat-geliat kesakitan, teriakan dan keluh kesakitan. "Sampai-sampai orang-orang di sekitarnya ketakutan," kenang Wisman lagi.

Ustad Saebani pun membenarkan bahwa Supono berteriak sangat keras sepertinya merasa sangat kesakitan. Begitu keras pekikan kesakitan itu, Ustad Saebani sampai menyuruh salah seorang untuk mengambil tisu.

"Tolong ambilkan tisu, banyak busa yang keluar dari mulutnya," ujar Ustad Saebani.

Itulah ujung kehidupan Supono. Namun, keganjilan tak berhenti. Ketika jenazahnya akan dimandikan, lebih dari 3 orang untuk mengangkatnya.

"aduh... tolong... tolong, ini kalau hanya orang tiga tidak kuat. Berat sekali," ucap Yusuf, warga yang membantu proses perawatan jenazah.

Warga pun terheran dengan kejadian itu. Betapa tidak, berat almarhum semasa hidup tidak lebih dari 60 kg. "Biasanya tidak seberat ini," ucap Pak Muddin membenarkan.

Kejadian itu terus berlanjut saat mengusung jenazah Supono ke pemakaman. Hanya beberapa langkah mengusung, mereka sudah mengaku tidak kuat memanggul dan minta diganti.

"Semoga ini bisa menjadi pelajaran kita semua," pesan Ustad Saebani kepada warga seusai proses pemakaman Supono.