Curi Tanah Tetangga, Jenazah Sulit Dikafani

Advertisement
"Hati-hati menjalani hidup bertetangga, jangan seperti Mina. Akibat keserakahannya, ia berani "Mencuri" batas tanah tetangganya. Meski diingatkan, dia tetap bersikukuh, bahkan marah-marah. Nauzubillah, saat ia meninggal dunia, jasadnya sulit dikafani. Berkali-kali kain kafannya harus diganti karena tidak muat untuk membungkusnya."

Ilustrasi (Sumber Gambar @Source )

MakNyak.com - Peristiwa-peristiwa ganjil banyak mewarnai proses pengurusan jenazah Mina (bukan nama sebenarnya). Mina yang merupakan seorang janda 5 orang anak ini berjuang sendiri dalam menghidupi anak-anaknya hingga sukses.

Ia pun membuka usaha warung soto ayam di Kota Gresik, Jawa Timur. Usaha soto ayam yang merupakan warisan dari mendiang suaminya ini cukup ramai dan terkenal di kalangan masyarakat.

Namun, sangat disayangkan untuk membuat pengunjung bersedia mampir dan makan di warungnya, Minta tidak segan-segan meminta bantuan dukun. Astagfirullah.

Tetangga sekitar sebenarnya sudah mengetahui kebiasaan buruk Mina. Namun, banyak orang yang tertipu terhadap perangai Mina yang manis apabila berbicara dengan orang yang baru ia kenal.

"Kalau ndak begini (minta bantuan dukun), mana laku," kilahnya saat dinasihati orang lain.

MERAMPAS HAK ORANG LAIN

Waktu pun terus bergulir, Mina tetap menjalankan aktivitasnya. Setiap kali dinasihati keluarga dan orang-orang dekatnya, wanita itu selalu bisa mengelak, bahkan menghadrik orang-orang yang menasehatinya.

"Kita ya akhirnya cuek saja, lah kalau dikasih tahu malah kita yang diclatu alias dicaci maki habis-habisan," ucap Sri, warga setempat.

Matahari mulai memerah di ufuk barat pagi itu, seperti biasa warung soto mulai dibuka pada pukul 06.00 pagi. Kesibukan mulai tampak pada warung soto berukuran tidak terlalu luas itu. Seorang pria paruh baya berjalan tergopoh-gopoh mendatangi warung milik Mina.

"Bu, pagar tanahmu itu apa tidak terlalu melebar ke barat, sepertinya ukuran tanah saya miring," tegur Rif'an, tetangga Mina.

Percekcokan pun pecah di warung itu hingga menarik perhatian pengunjung yang sedang asyik makan. Segala dalih dan alasan pun keluar dari mulut Mina, hingga Rif'an pun merasa malu.

"Akhirnya ya saya pergi. Tapi, memang harus dibicarakan, biar dia tahu. Kan saya mau bangun rumah untuk anak saya di tanah itu," aku Rif'an

Lebih menghebohkan lagi, bukan hanya Mina yang ikut marah-marah. Mereka pun tergopoh-gopoh mendatangi rumah Rif'an. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung melontarkan kata-kata hinaan kepada keluarga Rif'an.

"Apalagi anak tertuanya, dia marah-marah. Dia bilang, 'kami ini orang bodoh dan tidak tahu apa-apa yang tidak paham tentang dunia hukum, jangan tuduh yang macam-macam'," Padahal, jelas-jelas ibunya yang salah," ungkap Fadlu, kakak ipar Rif'an.

Fadlu juga menjelaskan bahwa ayah mertuanya juga pernah berkata bahwa ukuran tanah keluarga Rif'an yang berbatasan dengan Mina itu hanya dibatasi oleh sebuah pohon besar. Namun sayang, pohon yang usia telah tua itu pun mati.

"Tapi, kami punya surat tanah dan akta tanah, jelas-jelas tanah kami berkurang dari ukuran aslinya," jelas Rif'an.

KAIN KAFAN TIDAK MUAT

Peristiwa itu pun berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Semua telah kembali dalam kondisi normal, meski pagar pembatas tanah yang ukurannya melebihi ukurannya itu tidak dibongkar. Keluarga Rif'an pun mengikhlaskan tanah itu.

"Damel dalan sangu kulo ten surga mawon (buat jalan bekal saya ke surga saja)," seloroh Rif'an sambil tertawa renyah.

Tapi di sisi lain, kondisi Mina yang semakin uzur membuat kesehatannya semakin menurun. Mina pun meninggal dunia di usia 83 tahun, awal Juni tahun 2015 yang lalu.

Tanpa menunggu waktu lama, jenazah almarhumah Mina pun segera dimandikan dan dirawati. Namun, kejanggalan mulai muncul saat jenazah Mina mulai dikafani.

"Saya pikir ukuran saya yang salah ketika memotong kain kafa. Ternyata tidak, setelah dipastikan ukurannya oleh wakil saya," ungkap Zaenab, warga yang mengkafani Mina.

Mau tak mau Zaenab harus mengganti kain kafannya. Namun, hingga tiga kali, kain kafan yang disiapkan selalu tidak cukup untuk membungkus jenazah Mina. Nauzibillah.
Advertisement