Wanita Pelit, Mati Terhimpit Bumi

shares |

"Akibat sikap pelit semasa hidupnya, jenazah Wati susah dikubur. Bahkan, seolah-olah jenazah itu terhimpit oleh kuburnya. Padahal, sudah berulangkali galiannya dilebarkan, tapi tetap saja jenazahnya terhimpit."

Ilustrasi ( Sumber Gambar @Source )

MakNyak.com - "Bu, mohon sedekahnya," pinta pengemis pria dengan pakaian compang-camping.

"Eh kamu pengemis, masih muda udah jadi pengemis. Pergi!!! Jangan ngemis di toko ini lagi! Bikin sial aja!" seru Wati dengan muka ketusnya.

Pria itu lantas pergi meninggalkan pemilik tokonya. Mukanya tertunduk lesu lantaran harapannya sirna. Tadinya, pengemis pria tersebut berharap mendapat uluran sedekah dari Wati. Paling tidak, sebungkus roti atau uang recehan bisa digunakan untuk menyambung hidupnya.

MEMBENTAK IBU

Begitulah ulah Wati sehari-hari. Jangankan kepada pengemis, saat Lebaran pun, Wati tak sedikit pun memberi orang tuanya sendiri. Padahal, sekilas perhiasan emas melingkar di setiap pergelangan tangannya. Toko rotinya juga tak pernah sepi pelanggan. Entah apa yang menyebabkan Wati memelihara sikap pelit.

Kabarnya, Wati ini pernah bercerita ke salah satu tetangganya perihal kekayaan yang didapatkannya. Dalam dialog keduanya, bisa disimpulkan bahwa Wati itu orangnya memang pelit.

"Cari duit itu susah tahu. Ngapai dikasih-kasihkan," ujar Wati menceritakan.

"Bukan dikasihkan, Bu Wati. Kan, namanya sedekah." balas Ratna, tetangganya.

"Kalau mau dapat duit, ya kerja dong. Jangan berharap diberi uang terus," ujarnya bersikeras.

Ungkapan Wati ini memang ada benarnya. Karena jika tidak berusaha dengan bekerja, maka bagaimana seseorang bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Hanya, wagra geleng-geleng saja melihat sikapnya yang terlalu pelit.

Ratna tentu tahu persis kebiasaan Wati sehari-hari. Selain tokonya saling berdampingan, juga menjadi tetangga di wilayah Mojokerto. Ia membenarkan bahwa Wati memang tidak hanya pelit kepada pengemis saja, melainkan dengan keluarganya sendiri. yang membuat Ratna keheranan, dengan ibunya sendiri, Wati juga sangat berani.

"Boro-boro minta duit. Berkunjung saja tidak pernah," terang Ratna.

Ia melihat sendiri bagaimana Wati memperlakukan ibunya, Wati bercerita, saat ibunya berkunjung dan meminjam uang ke toko Wati. Bukan sambutan manis yang didapatkan ibunya, melainkan umpatan.

"Ibu ini sukanya bikin susah anak saja. Gak tau toko lagi sepi ya?" bentak Wati kepada ibunya yang juga tak sengaja terdengar oleh Ratna.

Kalimat ejekan, olokan, hinaan, seolah sudah menjadi kebiasaan Wati sehari-hari. Begitu juga dengan suami Wati yang dikenal judes. Jarang sekali bersilaturahim dengan warga sekitar. "Bukan bermaksud menjelekkan almarhumah. Tapi memang itulah kenyataan yang pernah saya lihat sendiri. Sifatnya itu dibawa almarhum sampai mati," tutur Ratna menghela napas panjang.

Begitulah gambaran sikap Wati yang sangat sok di lingkungan masyarakat. Ia senantiasa tidak pernah menghargai orang lain. Bahkan ia sendiri tidak malu mengucapkan kata-kata kotor dan hinaan. Rupanya, sampai akhir hayat pun, Wati tak pernah berubah. Dari kasak-kusuk cerita warga, saat sakaratul maut, Wati diazab Allah.

Seminggu sebelum meregang nyawa, Wati lumpuh akibat stroke. Sejak dulu ia memang mengidap penyakit jantung. Sedikit-demi sedikit, harta kekayaannya berkurang. Hingga pada suatu titik, hartanya ludes tak tersisa sedikitpun. Belum lagi setelah uangnya digunakan untuk biaya pengobatan anaknya yang kecelakaan.

"Aaaaaahhhhhhh..... sakiittttt!" jerit Wati mengagetkan semua tetangga kanan kirinya.

"Yan! Cepat ambilkan gelang mama!" teriak Wati kepada Yanto, anaknya.

Sungguh aneh benak Wati ini. Meski kondisinya sakit, ia tetap saja berpikir soal hartanya. Sedikit-sedikit berteriak. Jika tidak begitu, ia lantas meronta-ronta karena merasakan kesakitan di kakinya.

Kian lama, teriakan Wati semakin keras. Hampir tiap malam, suara Wati sampai terdengar di ujung gang kampungnya. Jika ada orang dari kampoeng sebelah lewat, suara Wati dikiranya jeritan dari makam yang tak jauh dari rumahnya.

"Suaranya itu loh, kayak orang kena siksa," ungkap warga sebelah yang kebetulan kaget bukan kepalang mendengar jeritan wati.

KUBUR MENYEMPIT

Dua pekan kondisi Wati semakin memburuk. Karena tak kuat menahan, Wati pun meregang nyawa dengan kondisi yang membuat warga merinding.

"Astagfirullah, pas saya melayat, saya lihat mata bu Wati masih melotot. Padahal oleh keluarganya sudah dipejamkan," celetuk tetangganya.

"Malahan saya lihat itu tubuhnya kurus kering kayak kayu yang terbakar. Baunya juga enggak enak," tambah warga yang lain.

Satu lagi keanehan yang terjadi saat proses pemakaman Wati. Warga yang sudah berkumpul turut mendoakan agar Wati mendapatkan ampunan Allah. Kendati ada banyak warga yang sering disakiti, termasuk keluarganya sendiri, mereka semua hadir.

"Ayo Pak, turunkan mayitnya," kata penggali kubur.

Dengan beramai-ramai, jenazah Wati pun diturunkan.

"Loh Pak, kuburannya ini kurang lebar. Jenazahnya terhimpit," timpal penggali lainnya.

Kemudian jenazah Wati kembali diangkat ke atas. Segeralah para penggali kubur itu meluaskan galian kuburnya. Hingga beberapa menit kemudian, galian kuburnya sudah siap.

"Oke cukup. Sekarang coba turunkan. pelan-pelan."

"Astagfirullah, Kok semakin sempit ya?" ujar penggali kubur dengan keheranan.

"Itu jenazahnya yang panjang atau jenazahnya terhimpit ya, Bu?" bisik seorang wanita di atas galian kubur kepada warga yang lain.

"Iya benar sekali. Jenazahnya yang terhimpit Bu."

Warga yang melayat pun semakin riuh tatkala melihat keanehan tersebut. Hingga akhirnya, mau tak mau, karena waktu mendekati Maghrib, jenazah Wati tetap dipaksa dikuburkan. Ada yang mengaitkan dengan sikap pelitnya, ada juga yang mengaitkan karena Wati jahat kepada ibunya. Yang jelas, dari proses pemakaman jenazah Wati, kesimpulan warga adalah bahwa karena sikap pelit itulah yang membuat jenazahnya terhimpit.

Related Posts