Memutus Silaturahim, Menjerit Saat Sekarat

shares |

"Silaturahim itu amal yang mulia, menghadirkan berkah, memperpanjang usia, dan melapangkan rezeki. Tapi, jaminan Rasulullah itu tak diindahkan Sutini. Bahkan, ia sengaja memutus tali silaturahim dengan saudara bahkan dengan orang tuanya. Alhasil, di akhir hidupnya, Sutini susah sakaratulmaut. Ia hanya menjerit-jerit kesakitan".

Sumber Gambar @Source

MakNyak.com - Beberapa tahun silam, juga bertepatan dengan momen Idul Fitri, ada kisah yang patut untuk kita jadikan pelajaran. Gara-gara memutus tali silaturahim, seorang wanita susah sakaratulmaut. Dikisahkan Diana (bukan nama sebenarnya) ada seorang wanita yang tinggal di daerah Surabaya. Warga memanggilnya dengan Bu Sutini. Di akhir masa tuanya, Sutini hanya mampu tergolek lemas di pembaringan. ia tak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya mengedipkan mata untuk memberikan tanda.

Pelit bin Kikir. 

"Ampunnn.... Tolonggg......," jeritan Sutini tiada hentinya.

Sungguh sangat menderita sekali Sutini saat menghadapi Sakaratulmaut. Suaranya hanya terdengar terhenti sampai di kerongkongan tenggorokan. Entah apakah itu karena sakit, atau memang susah sakaratulmaut. Yang jelas Sutini ini berteriak-teriak minta ampun terus menerus. Sepintas, jika dilihat persis seperti orang yang sedang tercekik.

"MUngkin itu karena kebencian dalam dirinya kepada keluarganya," cerita Diana.

Menurut Diana, Sutini ini sangat membenci saudara dan orang tua. Kabarnya, keretakan tali persaudaraan itu dikarenakan adanya iri hati satu sama lain. Yang paling nampak ketika Lebaran tiba. Lazimnya, pada momen bahagia tersebut, sanak saudara saling memaafkan dan saling berkunjung untuk silaturahim.

Anehnya, Sutini enggan meminta maaf kepada saudara atau ibunya. Sudah belasan tahun sikap Sutini dinilai warga tak kunjung berubah. Dari banyak cerita warga, Sutini merasa kesal karena dirinya merasa tidak mendapatkan keadilan saat pembagian harta warisan.

"Padahal, dia itu sudah dapat jatah yang sama. Sampai orang tuanya sendiri cerita dengan harapan bisa menyadarkan anaknya tersebut." tambah Diana mengingat.

Di luar permasalahan di dalam keluarga Sutini dan orang tuanya, yang paling diingat warga adalah sikap pelit Sutini. Perbuatan Sutini tersebut membuat keluarganya sendiri sering mendapatkan musibah.

Diana mengingat, saat berkunjung ke rumah Sutini, ia hanya mampu menggelengkan kepala melihat ucapan Sutini kepada pengemis yang datang. Bagi Sutini, para pengemis itu tak pantas dikasihani. "Begitulah kata-kata dia setiap ada pengemis. Meskipun pengemis, kan tidak seharusnya Sutini mengucapkan demikian," ujarnya.

Salah satu adik Sutini, ungkap Diana, bercerita kepada tetangga, sejak tahun 2010 silam Sutini memutuskan tali persaudaraan dengan keluarganya. Sekitar tahun 2012, Sutini mengalami musibah. Ia mengalami kecelakaan dan patah tulang akibat motornya bertabrakan dengan mobil. Sekitar empat hari lamanya ia menjalani operasi.

"Beberapa bulan kemudian, tepatnya Desember tahun itu juga, musibah yang sama menimpa putranya yang bernama Andik," lanjut Diana.

MENGADU DOMBA

Dari kecelakaan itu, putra Sutini mengalami luka dan gegar otak ringan. Saat itu Sutini hanya mengira semua kejadian yang menimpa keluarganya adalah semata-mata dari Allah SWT. Namun tak disangka, di bulan Mei 2013 musibah yang hampir merenggut nyawanya kembali datang. Seperti kebiasaan di pagi hari, Sutini selalu masak pagi-pagi untuk suami dan anaknya.

Sungguh naas waktu itu, kompor elpiji 3 kg yang digunakan memasak Sutini meledak menghancurkan pintu dan segala perabotan di dalam dapur. Dalam kondisi yang tak sadar lagi-lagi Sutini harus menjalani rawat inap selama dua minggu di rumah sakit.

Namun sebelum menutup mata, Sutini mengaku kepada salah satu saudaranya jika berniat untuk memohon maaf kepada sanak saudaranya dan orang tua. Di akhir hidupnya, Sutini semakin sadar bahwa musibah yang terjadi dalam hidupnya karena kesalahan yang dibuat dirinya sendiri.

Suatu ketika, ustad di kampung itu menasihati agar Sutini membuang jauh-jauh rasa kebencian dan iri hati kepada keluarga sendiri. Sang ustad tersebut menganjurkan agar Sutini tak menyimpan dendam. Apalagi sampai membawanya sampai akhir hayat. Sutini sendiri sebenarnya mengetahui hal itu. Sayangnya ai seolah acuh tak acuh saja terhadap saran sang ustad tersebut. Bahkan, malah mengumpatnya.

"Almarhum memang pernah mengakui kesalahannya kepada saya. Ia berterus terang jika pernah menzalimi dua saudara perempuan saya juga. Hingga akhirnya kedua saudara saya tersebut saling memutuskan tali persaudaraan gara-gara diaduk domba oleh Sutini. Sejak itulah Sutini dan keluarga lainnya sudah tak bertegur sapa lagi sampai akhirnya dia meninggal," urai Pardi (bukan nama sebenarnya).

Pardi menyimpulkan, jika perbuatan Sutini adalah karma dari Allah SWT akibat perbuatannya yang suka mengadu domba. Sebenarnya seluruh keluarganya sudah memaafkan Sutini atas kesalahan yang dibuatnya. Keluarga sudah memaklumi jika watak Sutini memang kurang baik sejak kecil. Tak sekalipun Sutini bertegur sapa dengan keluarganya meski itu bertemu di dalam kampung. "Orang tua saya sangat kecewa ketika Sutini seperti itu," jelas Pardi.

Related Posts