Kisah Pahala Haji Tukang Sol Sepatu

shares |

"Ketika berada di Masjidilharam, Hasan Al Basri mengalami mimpi yang membingungkan dirinya. Saat itu ia mendengar percakapan dua malaikat bahwa diantara ratusan ribu jamaah haji saat itu, hanya sedikit yang meraih mabrur. Salah satunya adalah seorang tukang sol sepatu. Anehnya lagi, orang tersebut belum pernah haji. Berikut kisahnya."

Ilustrasi ( Sumber Gambar @Source )

MakNyak.com - Suatu hari ketika hasan al Basri berada di Masjidilharam dalam suasana haji, ia bermimpi. Dalam mimpinya ia melihat dua Malaikat sedang membicarakan haji. Diantara mereka mengatakan, bahwa jumlah jamaah haji mencapai 700 ribu orang.

Malaikat pertama berkata, "Tahukah kamu, beberapa orang yang mendapat haji mabrur"?

Malaikat kedua menjawab, "Hanya Allah yang tahu dan hanya sedikit saja, karena haji mereka bersifat riya, ada yang keluarga dan tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu, ada yang hajinya sudah beberapa kali, tetapi orang di sekitarnya banyak yang sengsara, dan ada juga yang berangkat dengan hasil pekerjaan yang haram".

DIALOG MALAIKAT

Malaikat pertama mengatakan bahwa ada seseorang yang mendapatkan pahala haji mabrur sedang dia tidak mengerjakan haji.

"Siapa dia?" tanya Malaikat kedua.

"Dia adalah Sa'id Bin Muhafah, tukang sol sepatu di Kota Syria," jawab Malaikat pertama.

Mendengar ucapan itu, Hasan al Basri terbangun. Sepulang dari Makkah, ia langsung menuju Kota Syria.

Sampai di sana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu di tanya, dan akhirnya bertemu dengan Sa'id bin Muhafah. Sejenak Hasan kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya, akhirnya ia menceritakan perihal mimpinya. Sa'id mulai menjawab dengan bercerita pengalamannya.

Sa'id menuturkan bahwa ia sebenarnya sudah puluhan tahun lalu saya sangat rindu menuju Makkah untuk menunaikan berhaji. Mulai saat itu istiqomah setiap hari menyisihkan uang dari hasil kerja sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan. Ketika jumlahnya sudah cukup, ia berencana pergi haji. Akan tetapi sewaktu Sa'id hendak berangkat, istrinya yang tengah hamil memintanya untuk membelikan daging yang dia cium dari kejauhan.

Sa'id pun mencari sumber aroma daging itu. Ternyata aroma itu berasal dari sebuah gubuk yang hampir runtuh. Di dalamnya ada seorang janda dengan enam anaknya. Sa'id berinisiatif meminta sedikit dari daging itu untuk istrinya.

TIDAK PERNAH HAJI

Akan tetapi permintaan Sa'id ditolak. Di pemilik daging tidak berkenan memberikannya meskipun secuil.

"Dijual berapapun akan saya beli, saya mohon," ujar Sa'id memelas.

Sekali lagi, janda itu tetap tidak menjual dagingnya. Janda itu berkata, "Daging ini halal untuk kami tetapi haram untuk Tuan".

"Apa maksudmu?" tanya Sa'id.

"Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal karena jika kami tidak memakannya tentu kami akan mati kelaparan," jawabnya sambil menahan air mata.

Mendengar ucapan tersebut Sa'id menangis. ia langsung pulang dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Sang istri pun ikutan menangis. Akhirnya uang bekal gaji yang Sa'id kumpulkan selama bertahun-tahun diberikan semuanya untuk janda miskin itu. Sa'id rela tidak berhaji tahun itu demi membahagiakan keluarga janda miskin itu.

Mendengar cerita tersebut Hasan Al Basri tidak bisa menahan air mata. "Kalau begitu engkau memang pantas mendapatkan pahala haji mabrur karena kebaikan tersebut," ujar Hasan Al Basri.

Related Posts