Cara Khalid bin Walid Menghadapi Kematian

shares |

"Panglima perang yang terkenal pemberani di dalam sejarah Islam, Khalid bin Walid, punya cerita tersendiri dalam menghadapi kematian. Ternyata saat menghadapi sakaratulmaut pun ia hadapi tanpa rasa takut dan selalu mengucap "Laa ilaaha illallaahu".

Ilustrasi ( Sumber Gambar @Source )

MakNyak.com - Khalid bin Walid begitu banyak menghabiskan waktunya untuk berjihad di jalan Allah SWT. Ia begitu kuat dan pemberani di medan perang sehingga ia mendapatkan julukan Saifullah atau pedang Allah.

Ayah Khalid bin Walid adalah al-Walid bin al-Mughirah, salah seorang tokoh Quraisy di zamannya. Ibunya adalah Lubabah binti al-Harits, saudara dari Ummul Mukminin Maimunah binti al-Harits. Khalid bin Walid sendiri memeluk Islam pada tahun 8 H, saat perjanjian Hudaibiyah tengah berjalan.

Khalid bin Walid pernah turut serta dalam Perang Mu'tah. Nabi Muhammad Saw memujinya dalam perang tersebut. Rasul berkata, "Bendera perang dibawa oleh Zaid, lalu beperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja'far dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh pedang di antara pedang-pedangnya Allah (Saifullah, yakni Khalid bin Walid) hingga Allah memenangkan kaum muslimin."

DIPUJI RASULULLAH

Khalid juga turut serta dalam Perang Khaibar, Hunain, dan Fathu Makkah. Rasulullah Saw pernah mengutusnya untuk menghancurkan berhala Uzza. Khalid pun menghancurkan berhala itu di hadapan penyembahnya. Setelah hancurkan Uzza, Khalid berkata lantang, "Aku mengingkarimu. Kamu tidak Mahasuci. Sesungguhnya Allah telah menghinakanmu". Sejurus kemudian, Khalid membakar berhala itu.

Abu Bakar juga menjadikan Khalid pemimpin pasukan dalam peperangan melawan orang-orang murtad. Abu Bakar mengatakan, "Sebaik-baik hamba Allah dan saudara dekat adalah Khalid bin Walid. Khalid bin Walid pedang di antara pedang-pedangnya Allah."

Khalid bin Walid juga mencatatkan sejarah yang begitu luar biasa dalam menghadapi negara Romawi di Syam dan Persia di Irak. Ia pula yang memerdekakan Damaskus.

Keberanian Khalid bin Walid ternyata tidak hanya terlihat di medan perang saja. Saat kematian hendak menjemputnya, ia tak mau kelihatan takut. Ia pun mengistiqomahkan mengucap kalimat "Laa ilaaha illallaahu."

MENGUCAP TAUHID

Ia berkata, "Aku telah turut serta dalam 100 perang atau kurang lebih demikian. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun, lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka, janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku harapkan dari pada "Laa ilaaha illallaah", dan aku terus menjaga kalimat tersebut (tidak berbuat syirik)".

Hingga akhirnya Khalid bin Walid wafat pada tanggal 18 Ramadan 21 H. Umar bin Khattab sangat bersedih dengan kepergian Sang Pedang Allah. Ketika ada yang meminta umar agar menenangkan wanita-wanita Quraisy yang menangis karena kepergian Khalid, Umar berkata, "Para wanita Quraisy tidak harus menangisi kepergian Abu Sulaiman (Khalid bin al-Walid):.

Sebelum wafatnnya, Khalid mendermakan senjata dan kuda tunggangannya untuk berjihad di jalan Allah SWT.

Related Posts